Aji Tonggal (Cerita Rakyat Sumatra Utara)

Ada seorang ayah bernama Anakniaji yang baru saja mendirikan sebuah rumah untuk keluarganya. Sesuai tradisi atau adat yang berlaku di tempatnya, untuk menenmpati rumah baru, maka keluarga Anakniaji harus menyelenggarakan upacara adat. Dengan cara menyembelih seekor kerbau sebagai korban.

Setelah berunding dengan anaknya yang bernama Aji Tonggal, diputuskan oleh Anakniaji untuk menyembelih kerbau jenis betina milik mereka yang bernama Kerbau Sirangir.

Beberapa hari menjelang diselenggarakannya upacara adat tersebut, Anakniaji memanggil penggembalanya yang bernama Malaski. Kemudian dia menyuruh Malaski pergi ke padang penggembalaan untuk memberitahu Kerbau Sirangir bahwa sebentar lagi akan disembelih.

Ketika Malaski memberitahu Kerbau Siranggir bahwa dia akan disembelih sebagai kurban, Kerbau Siranggir sama sekali tidak keberatan. Namun dia meminta agar diberi kesempatan menyelesaikan pekerjaannya membangun rumah untuk tempat tinggal anak-anaknya. Permintaan itu disetujui, yang akhirnya kerbau tersebut akan disembelih setelah rumah untuk anak-anaknya selesai dibangun.

Setelah Kerbau Siranggir selesai membangun rumah, dia segera mengumpulkan anak-anaknya. Kemudian Kerbau Siranggir berkata bahwa dia segera akan disembelih. Mendengar itu, semua anak Kerbau Siranggir menangis terbahak-bahak. Mereka memohon agar ibu mereka jangan mau disembelih. Kerbau Siranggir menjelaskan kepada anak-anaknua bahwa dia sama sekali tidak boleh menolak kehendak Anakniaji untuk menyembelihnya. Karena Kerbau Siranggir dan anak-anaknya milik keluarga Anakniaji.

Pada hari yang sudah ditentukan, datanglah Malaski menjemput Kerbau Siranggir untuk dibawa ke tempat penyelenggaraan upacara adat. Melihat Malaski datang, Kerbau Siranggir segera memanggil anak-anaknya. Setelah semuanya kumpul mengelilingi Kerbau Siranggir, dia mengatakan bahwa sudah waktunya untuk berpisah dengan mereka.

Melihat anak-anaknya itu menangis tersedu-sedu, Kerbau Siranggir menasihati mereka agar jangan bersedih hati karena kepergiaannya adalah untuk menunaikan tugas suci. Kerbau Siranggir mengatakan kepada anak-anaknya bahwa kalau nanti mereka melihat hujan lebat turun disertai kilat dan guru, itu pertanda bahwa dia sedang disembelih.

Setelah mencium anak-anaknya satu per satu, Kerbau Siranggir berangkat mengikuti Malaski. Anak-anaknya melepas kepergiaan ibunya dengan iring-iringan tangis yang begitu memilukan.

Di tempat penyelenggaraan upacara adat, orang-orang sudah ramai menunggu kedatangan kerbau Siranggir. Dan ketika Kerbau Siranggir dan Malaski tiba di tempat tersebut, Aji Tonggal segera mendatangi Kerbau Siranggir dan membawanya ke tempat penyembelihan yang sudah ditentukan.

Kerbau Siranggir direbahkan oleh orang-orang, lalu dia memejamkan mata. Seorang lelaki bertubuh besar, menyembelih leher Kerbau Siranggir dengan sebilah parang yang sangat tajam. Ketika darahnya menyembur, tiba-tiba kilat menyambar disertai suara gemuruh yang memekikan telinga. Dan pada saat itu yang bersamaan, turun hujan lebat.

Melihat hujan turun sangat lebatnya disertai kilat petir menyambar-nyambar dan sekaligus suara guruh, anak-anak kerbau Siranggir tahu kalau ibunya sudah disembelih. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali menahan sedih yang amat menyakitkan.

Setelah hujan lebat itu berhenti, orang-orang mulai memotong-motong daging Kerbau Siranggir dan memasaknya. Kepalanya digantung di dapur rumah baru yang akan ditempati keluarga Anakniaji.

Setelah daging kerbau Siranggir selesai dimasak, orang-orang memakannya bersama-sama sambil bersuka cita dalam upacara adat tersebut.

Usai upacara, barulah keluarga Anakniaji menempati rumah mereka yang baru itu.

Keesokan harinya, seperti biasa Anakniaji bersama istri dan anaknya, yaitu Aji Tonggal, pergi ke ladang mereka di luar desa. Rumah mereka ditinggalkan dalam keadaan terkunci.

Setelah pulang dari ladang menjelang malam, Aji Tonggal dan ibunya masuk ke dapur. Mereka merasa terkejut dan heran karena di dapur sudah terhidang makanan. Padahal sebelumnya tidak ada satupun makanan di atas meja dapur. Dan tidak mungkin juga ada orang yang bisa masuk ke dalam rumah (pintu dan jendela terkunci rapat).

Setelah kejadian aneh itu terulang beberapa kali, Aji Tonggal memutuskan untuk menyelidiki peristiwa tersebut secara sembunyi-sembunyi.

Ketika ayah ibunya pergi ke ladang pada pagi hari, Aji Tonggal bersembunyi di salah satu sudut dapur.

Setelah tengah hari, betapa terkejutnya Aji Tonggal melihat kejadian aneh dalam hidupnya. Kepala Kerbau Siranggir yang tergantung di dinding dapur, berubah menjadi sesosok perempuan cantik. Aji Tonggal tetap diam di persembunyiaannya. Dilihatnya perempuan itu memasak makanannya hingga selesai.
Aji Tonggal (Cerita Rakyat Sumatra Utara)


Karena sudah tak tahan akan penasaran, Aji Tonggal melompat dari persembunyiaannya lalu menangkap perempuan misterius itu. Terjadilah pergumulan hebat, perempuan itu berusaha melepaskan diri, namun karena daya cengkeram tangan Aji Tonggal  sangat kuat, perempuan itu memilih menyerah.

Aji Tonggal lalu menannyakan siapa perempuan tersebut. Dan terjawablah bahwa perempuan itu adalah jelmaan dari Kepala Kerbau Siranggir walaupun sudah mati terpisah dari tubuhnya. Perempuan itu lalu mengatakan bahwa dia tidak akan bisa berubah menjadi kepala kerbau, sebab tangannya sudah terpegang oleh manusia.

Ketika sore hari, Anakniaji dan istrinya pulang, dan betapa terkejutnya mereka melihat Aji Tonggal bersama  perempuan cantik duduk bersama di dapur.

Setelah Aji Tonggal menjelaskan duduk perkaranya, barulah ayah dan ibunya merasa lega. Dan keduanya berniat untuk menikahkan Aji Tonggal dan perempuan cantik tersebut.

Perempuan (kerbau Siranggir) itu tetap mengabdi di keluarga Anakniaji, sekaligus dia dapat merawat anak-anaknya yang masih berwujud kerbau.

Tamat

KW: cerpen, cerita pendek, hikayat, dongeng, asal usul, legenda, cerita rakyat, nusantara, indonesia,


0 Response to "Aji Tonggal (Cerita Rakyat Sumatra Utara)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel